Minggu, 21 Februari 2016

Ketika Negara Islam Menyelamatkan 150.000 Orang Yahudi

Ketika Negara Islam Menyelamatkan 150.000 Orang Yahudi

Konflik memanas di Iberia. Kristen Spanyol kian menguat dengan bersatunya Kerajaan Castilla dan Aragon melalui pernikahan Ratu Castillah Isabela dengan Raja Aragon Ferdinand. Pada bulan Juli 1492, Spnyol yang baru, membuat kebijakan membantai dan mengusir orang-orang Muslim dan Yahudi di wilayah mereka. Kejadian ini merupakan bagian dari kebijakan kejam dan brutal yang dikenal dengan inquisisi.

Umat Islam minoritas mencoba melakukan perlawanan. Namun upaya mereka selalu menemui kegagalan. Mereka mengirim surat kepada raja-raja Islam untuk menyelamatkan hidup mereka. Raja Dinasti Hotak, Shah Asyraf Hotak, segera mengutus delegasi kepada Paus dan raja-raja Nasrani, mengingatkan bahwa orang-orang Nasrani di wilayahnya dijamin keamanannya. Apbila umat Islam di Spanyol tetap disiksa secara kejam, ia mengancam akan melakukan hal yang sama terhadap kaum Nasrani di wilyahnya. Sayangnya, upaya Raja Asyraf tidak mampu menekan Kristen Spanyol.

Muslim Spanyol juga mengirim surat kepada Khalifah Utsmani, Sultan Bayazid II. Merespon hal tersebut, Sultan Bayazid II mengirimkan angkatan lautnya dibawah pimpinan Laksamana Kemail Reis. Ia tidak mampu mengirimkan pasukan perang karena sedang menghadapi banyak pemberontakan dan perlawanan. Pemberontakan dari saudaranya Pangeran Jem. Dan serangan Nasrani di Venezia, Hungaria, dan Perancis. Belum lagi ancaman Kerajaan Syiah Shafawiyah. Di tengah kesulitan tersebut ia mengirimkan angkatan laut Utsmani untuk misi penyelamatan. Kapal laut pun dikerahkan berangkat menuju Spanyol.

Misi Kemanusiaan Menyelamatkan Orang Tertindas

Sultan Bayazid II dan pasukannya tidak hanya menyelamatkan saudara seiman saja. Pasukan Islam juga menyelamatkan orang-orang Yahudi yang terusir. Saat itu, lebih dari 150.000 orang-orang Yahudi dibawa menuju wilayah Turki Utsmani yang aman untuk mereka. Sultan pun telah mengirim surat perintah ke seluruh wilayahnya bahwa para pengungsi harus disambut dengan terbuka.

Dalam surat perintah tersebut, Sultan Bayazid II menyatakan bahwa Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada keturunan Nabi Ibrahim dan Yakub. Menjamin makanan yang layak untuk mereka. Mereka bisa datang dan menetap di Istanbul. Hidup damai, bebas melakukan perdagangan, dan memiliki rumah dan tanah sendiri.

Gambran penyambutan pengungsi Yahudi oleh Sultan Utsmani

Sultan Bayazid mengirimkan pesan kepada seluruh gubernurnya di wilayah Eropa, untuk menyambut mereka dengan tangan terbuka. Ia mengancam akan memberikan sangsi bagi gubernur yang menolak pengungsi Yahudi.


Sekian dari blogger saya., semoga bermanfaat

10 Pemimpin Besar Dalam Sejarah Islam


10 Pemimpin Besar Dalam Sejarah Islam (1)
Memilih 10 nama dari ratusan pemimpin besar Islam (selain sahabat) tentu bukanlah hal mudah. Bisa jadi pembaca punya idola dan pilihan berbeda. Ada yang menyebut beberapa nama dan menggeser beberapa nama yang kami sebutkan. Demikianlah sejarah. Ia bukan ilmu pasti seperti matematika dan fisika. Ada garis batas yang kaku dan rumus yang jitu untuk menentukan hasil tertentu. Sejarah tidak seperti itu.

10 nama ini dipilih berdasarkan peranan besar mereka dalam politik dan strategi. Juga kemampuan dalam menghadapi tipu daya musuh yang mengancam dan menipu. Bukan dari sisi prestasi dalam ilmu dan sastra. Juga bukan dalam masalah hukum dan pengetahuan agama. Dan tentu saja, 10 nama ini dipilih agar umat Islam tahu tentang pahlawan mereka.

Dalam kurun 3 abad, nama-nama mereka dicatat sebagai tokoh besar dalam dunia militer.


Pertama: Abu Ja’far al-Manshur

Laki-laki tangguh ini adalah seseorang yang memegang peranan penting dalam sejarah berdirinya Daulah Abbasiyah. Dialah pencetus ide Daulah Abasiyah. Dia juru taktik dan tokoh intelektual di
belakang saudaranya Abu al-Abbas as-Safah, khalifah pertama Daulah Abbasiyah.

Saat kekuasaan Daulah Umayyah telah masuk ke wilayah Andalusia hingga Asia Tengah, mulailah terjadi kegoncangan. Damaskus (ibu kota Daulah Umayyah) sulit me-manage wilayah kekuasaannya yang begitu besar sekaligus memiliki ragam budaya yang berbeda. Para sejarawan menyebutkan bahwa faktor utama runtuhnya Dualah Umayyah adalah kegagalan mereka berinteraksi dengan ragam etnik dan budaya yang heterogen. Dan di saat itu pula orang-orang Abbasiyah menyerukan perlawanan.

Abu Ja’far al-Manshur begitu jeli melihat kelemahan Daulah Umayyah. Ia pandai memposisikan diri di kalangan orang-orang Persia dan Asia Tengah. Ia tahu bagaimana mengarahkan potensi perbedaan etnik dan budaya menjadi sebuah energi positif yang membangun, tidak melulu menghembuskan energi negatif yang hanya memicu sengketa dan perpecahan. Melihat geopolitik Timur Tengah saat ini, kecerdasan Abu Ja’far al-Manshur menyatukan Persia dan Arab belum bisa ditiru oleh pemimpin-pemimpin di era modern ini.

Di negeri yang sedang dibangun Abu Ja’far, tidak ada identitas kesukuan. Identitas seseorang hanya disandarkan pada Islam saja. hebatnya, ia juga mampu mengkompromikan antara budaya Arab dan Persia yang dikenal sangat sulit bersatu. Para khalifah Abbasiyah berikutnya mendapatkan warisan berharga berupa pondasi masyarakat yang kokoh. Hingga karakter Abbasiyah ini luntur ditandai dengan munculnya Dinasti Buwaihi dan Saljuk. Dan akhirnya runtuh di tangan bangsa Mongol pada tahun 656 H/1258 M.


Kedua: Abdurrahman ad-Dakhil

Abdurrahman ad-Dakhil, anak muda bani Umayyah ini memiliki perjalanan hidup yang luar biasa. Membaca kisahnya mendirikan Daulah Bani Umayyah II seperti membaca kisah dongeng. Kalau Anda takjub dengan anak muda membuat “kerajaan” bisnis; mendirikan perusahaan, sejuta pencapaian, atau dengan Mark Zuckerberg yang mendirikan facebook, maka Anda akan lebih takjub lagi dengan kisah Abdurrahman ad-Dakhil. Karena di usia belia, ia mendirikan kerajaan dalam arti senyatanya. –atas izin Allah- Ia mampu melakukan lobi-lobi politik tingkat tinggi, memimpin puluhan ribu pasukan untuk tunduk pada komandonya, memadamkan puluhan pemberontakan, menyelamatkan nyawa dari ribuan pedang, semua itu ia lakukan sejak berusia 19 tahun.

Abdurrahman ad-Dakhil menjadi buronan Abbasiyah saat berusia 19 tahun. Menjadi penguasa tunggal di Andalusia pada usia 29 tahun. Dan terus memegang kekuasaan selama sekitar 34 tahun.
Patung Abdurrahman ad-Dakhil di Almuñécar, Spanyol.
Abdurrahman ad-Dakhil adalah cucu dari Khalifah Hisyam bin Abdul Malik al-Umawi. Pada saat Daulah Abbasiyah berdiri, maka terjadi pembantaian besar-besaran terhadap bani Umayyah. Termasuk Abdurrahman bin Muawiyah bin Hisyam ad-Dakhil menjadi sasaran. Ia pun kabur menyelamatkan diri. Saat dalam pelarian itu, ia menyaksikan dua orang saudaranya dibunuh di hadapannya. Ia terus berlari menuju Syam kemudian Mesir lalu Maroko. Dari Maroko, ia menyeberang ke Andalusia. Di sanalah ia mendapatkan gelar ad-Dakhil.

Sejak umat Islam masuk ke Andalusia pada tahun 92 H hingga masuknya ad-Dakhil pada tahun 138 H, orang-orang Arab belum memiliki posisi yang kokoh di Jazirah Iberia itu. Tidak sampai setahun, ad-Dakhil telah berhasil mengokohkan posisinya di Cordoba. Dari Cordoba, ia berhasil menguasai Zaragoza dan Barcelona. Kedua kota tersebut ia taklukkan atas kecerdikannya melobi kekuatan militer bangsa Frank untuk membantunya. Kemudian ia menguasai kota-kota lainnya.

Mengingat ruwetnya lobi politik partai-partai pasca pemilu, kita bisa mengetahui bagaimana kehandalan politik anak muda yang bernama Abdurrahman bin Muawiyah ini. Kalau level partai, level nasional saja sulit menyatukan pendapat, kita jadi tahu bagaimana jitunya lobi Abdurrahman ad-Dakhil yang bisa merangkul bangsa Eropa agar mau bekerja untuknya.


Ketiga: Alib Arselan as-Saljuki

Garis batas wilayah kekuasaan Dinasti Saljuk –orang-orang Turki- meluas dengan pesat. Mulai dari Asia Tengah hingga ibu kota Daulah Abbasiyah di Baghdad. Kekuatan dinasti ini terus tumbuh hingga ia menjadi penguasa seluruh wilayah Islam. Dinasti ini menguasai orang-orang Buwaihi dan melindungi Abbasi, khususnya dari gangguan Syiah Fatimi (Daulah Ubaidiyah) yang menyebarkan ideologi Syiah Ismaili.

Di balik kejayaan Dinasti Saljuk ada nama Alib Arselan sebagai tokoh utamanya. Orang-orang Turki patut berbangga karena lahir seorang Alib Arselan di tengah-tengah mereka. Alib Arselan pernah memukul mundur 200.000 pasukan Romawi hanya dengan 20.000 pasukan saja. 1 banding 10. Pasukan adidaya Romawi yang sudah berkuasa berabad-abad lamanya. Pasukan yang kuat yang disangka tak terkalahkan itu takluk dengan pasukan yang jauh lebih sedikit jumlahnya. Sejak saat itu, pengaruh Romawi di Asia kecil melemah hingga akhirnya ditaklukkan oleh Muhammad al-Fatih.
Saat ini, melihat kebijakan Tayib Recep Erdogan saja kita kagum. Bagaimana pula kiranya Alib Arselan yang berhasil meruntuhkan mental negara adidaya kemudian menguasainya.


Keempat: Nuruddin Zanki

Nuruddin Zanki, ia adalah pahlawan Islam yang berhasil mengusir tentara Salib diari tanah Suriah dan sebagian wilayah Palestina. Mungkin namanya tidak sepopuler Shalahuddin al-Ayyubi, tapi dialah yang membuka jalan bagi Shalahuddin untuk membebaskan Jerusalem.

Setelah menggantikan ayahnya sebagai penguasa Aleppo, Nuruddin berusaha sekuat tenaga menyatukan wilayah-wilayah Syam. Ia membebaskan Damaskus, Baalbek, Edessa, Harran, dan Mosul. Setelah itu ia mengarahkan pasukannya menuju Palestina menghadapai Pasukan Salib. Ia juga menghadapi orang-orang Salib di Mesir. Dan kemudian memasukkan wilayah-wilayah tersebut di bawah kekuasaannya.

Sama seperti Alib Arselan, Nuruddin Zanki juga dikenal sebagai seorang yang shaleh dan zuhud. Ia memberi perhatian yang besar terhadap perkembangan agama Islam. Saa wafat pada tahun 569 H/1174, Nuruddin telah membangun banyak masjid, madrasah, rumah sakit, dan rumah para musafir.


Kelima: Shalahuddin al-Ayyubi

Shalahuddin al-Ayyubi adalah penerus perjuangan Nuruddin Zanki. Dilahirkan dari suku Kurdi, Shalahuddin tumbuh besar di wilayah Syam karena ayahnya pindah ke Aleppo membantu perjuangan Imaduddin Zanki, ayah dari Nuruddin Zanki. Di Aleppo Shalahuddin kecil mempelajari agama dan kemiliteran. Kemudian ia bergabung ke dalam pasukan pamannya, Asaduddin Syirkuh, yang merupakan salah seorang panglima pasukan Nuruddin Zanki.

Di bawah bimbingan Nuruffin Zanki, karir Shalahuddin terus menanjak, hingga ia diamanahi untuk memimpin Mesir setelah mengusir orang-orang Fatimiyah dari wilayah Sunni itu. setelah Nuruddin wafat, Shalahuddin menempati kekuasaannya. Ia pun jadi pemimpin Mesir dan Syam. Misi pembebasan Jerusalem pun dilanjutkan.

Pada Perang Hattin tahun 583 H/1187 M, Shalahuddin berhasil mengalahkan Pasukan Salib. Dalam waktu hanya tiga bulan, wilayah-wilayah yang dikuasai Tentara Salib; Acre, Beirut, Sidon, Nablus, Jaffa, dan Ashkelon kembali ke tangan kaum muslimin. Kemudian Jerusalem setelah 88 tahun dikuasai oleh Pasukan Salib.

10 Pemimpin Besar Dalam Sejarah Islam (2)
Biarlah mereka bercerita tentang Achiles, sang pemberani dalam mitologi Yunani. Atau dongeng manusia setengah dewa, Hercules. Kita –umat Islam- pun memiliki pahlawan pemberani pula. Ceritakanlah kepada kepada anak-anak kaum muslimin tentang Abdurrahman ad-Dakhil, atau Muhammad al-Fatih, atau Sulaiman al-Qanuni. Agar mereka tahu siapakah yang lebih layak untuk jadi idola.


Keenam: Saifuddin Qutuz

Saifuddin Qutuz adalah orang kepercayaan Sultan al-Mu’iz Izuddin Aibek dan anaknya, Sultan al-Manshur Ali. Salah satu prestasi terbesarnya adalah mengalahkan pasukan Mongol yang tak terkahlahkan itu.

Ketika Mongol sampai di wilayah Syam, mereka mengutus duta kepada Qutuz, agar menyerah dan tunduk kepada Mongol. Tunduk kepada orang Aisa Tengah yang nomaden yang telah menjelma menjadi kekuatan dunia. Kekuatan besar yang telah mengalahkan negeri sebesar Tiongkok. Kekuatan besar yang tak ada satu pun negeri-negeri Timur mampu membuat mereka mundur.

Peta Ain JalutBeberapa riwayat sejarah menyebutkan, Qutuz membalas sikap Mongol yang menganggap remeh Daulah Mamluk ini dengan memenggal para utusan itu. kemudian memajang kepala mereka di depan Gerbang Zuwaylah, salah satu gerbang di Kota Kuno Kairo, Mesir. Hal ini menegaskan sikap Daulah Mamluk, mereka menyambut genderang perang yang ditabuh Mongol terhadap negara-negara Islam. Peristiwa ini mengawali perang besar yang kita kenal dengan Perang Ainjalut. Perang paling bersejarah dalam perjalanan Kota Kairo. Perang yang –atas izin Allah- menyelematkan peradaban Islam dari keganasan bangsa Mongol.


Mengalahkan Mongol hanya dengan bermodal keberanian, sama saja menyerahkan leher-leher kaum muslimin untuk disembelih. Tentu butuh strategi dan perhitungan yang jitu. Mongol telah mengalahkan Cina, bangsa yang kuat dan memiliki peradaban yang mapan. Mengalahkan Abbasiyah yang telah berkuasa di tanah Arab berabad-abad. Oleh karena itu, pencapaian Qutuz dengan mengalahkan Mongol adalah sesuatu yang luar biasa. Selain itu, moral kaum muslimin pun kembali meninggi.


Ketujuh: Yusuf bin Tasyafin

Yusuf bin Tasyafin, sang singa Murabithin. Kecerdasannya tampak saat Penguasa Murabithin di Maroko, Amir Abu Bakar, menunjuknya sebagai penguasa wilayah Sijilmasa. Kemudian Abu Bakar menyerahkan kekuasaan Daulah Murabithin kepadanya secara utuh. Dimulailah masa keemasan Murabithin hingga 45 tahun berikutnya.

Kota Marrakesh
Yusuf mulai membangun kota Marrakesh. Memperluas kekuasaan Murabithin hingga meliputi seluruh wilayah Maroko dan Aljazair. Kemudian menuju Andalusia, menyelamatkan kaum muslimin setelah jatuhnya Kota Toledo ke tangan orang-orang Nasrani. Ia terus masuk ke Andalusia hingga berhasil mengalahkan Raja Alfonso dari Kerajaan Kastilia pada tahun 479 H/1086 M.


Kedelapan: Muhammad al-Fatih

Muhammad al-Fatih adalah seorang pemimpin Daulah Utsmani yang sangat dikenal. Ia memegang kekuasaan Utsmani pada tahun 855 H/1451 M dan berhasil menaklukkan Konstantinopel pada tahun 857 H/1453 M. Ia memerintah kerajaan ini selama 30 tahun.

Selain digelari dengan al-Fatih, ia juga disebut dengan Kaisar Romawi, karena mewarisi kerajaan Romawi Bizantium. Ia juga dikenal dengan Tuan Dua Benua dan Dua Lautan, karena menguasai Anatolia dan Balkan serta merajai Laut Aegea dan Laut Hitam.

Sultan Muhammad al-Fatih memasuki Konstantinopel
Masa pemerintah Muhammad al-Fatih dikenal dengan masa reformasi Daulah Utsmani. Ia membuat tata aturan yang berlaku merata di wilayah kekuasaannya. Keistimewaan pemerintahannya ditandai dengan penjagaan luar biasa terhadap masyarakat pedangang dan perkembangan diplomasi dengan wilayah-wilayah tetangga.

Selain dikenal sebagai pembuka jalan masuknya Islam ke Eropa, Muhammad al-Fatih juga dikenal sebagai seorang yang toleran. Semua lapisan masyarakat Istanbul mengetahui hal itu. Ia sering berdiskusi dengan cendekiawan Itali dan Yunani di Kota Balata. Menunjukkan betapa terbukanya dia. Dalam pemerintahannya, gereja Kristen ortodoks di Turki tetap berjalan normal seperti sebelumnya, hingga ditutup di masa pemerintahan Turki modern di abad ke-20.


Kesembilan: Sultan Salim I

Hanya 8 tahun saja Sultan Salim I memerintah Daulah Utsmani, namun pencapaiannya begitu luar biasa. Mesir, Suriah, dan Hijaz menjadi bagian dari Utsmani. Inilah kali pertama Daulah Utsmani menjadi penguasa wilayah bumi terbesar.

Pada masa pemerintah Sultan Salim I, muncul ancaman di wilayah timur Utsmani dari Kerajaan Syiah Shafawi di Iran. Orang-orang Persia itu mulai mengancam Anatolia. Sultan Salim I “membeli” “dagangan” mereka. terjadilah pertempuran melawan Syiah Shafawi di perbatasan Timur Utsmani, di Sungai Eufrat, pada tahun 920 H/1514 M. Dari peperangan tersebut, wilayah Turkmenistan dan Kurdistan menjadi bagian dari Utsmani.

Pada tahun 922 dan 923 H/1516 dan 1517, wilayah Mesir dan Syam menjadi wilayah Utsmani. Kemudian syarif Mekah menyerahkan kekuasaannya atas Mekah dan Madinah kepada Sultan Salim I di Kairo.


Kesepuluh: Sultan Sulaiman al-Qanuni

Setelah Sultan Salim I wafat, kekuasaan Utsmani dipegang oleh anaknya, Sulaiman al-Qanuni (926-974 H/1520-1566 M). Sultan Sulaiman mengikuti kebijakan pendahulunya dalam kemiliteran. Namun di masa pemeritahannya, hukum, kebudayaan, dan tata kota lebih tersusun rapi. Oleh karena itu, masa pemerintahannya terkenal dengan puncak kejayaan peradaban Utsmani.

Pada masa Sultan Sulaiman wilayah Beograd –ibu kota Serbia sekarang-, Rhodes, Hungaria, dan Wina –ibu kota Austria- menjadi wilayah Turki Utsmani. Sultan Sulaiman melakukan aktivitas militer besar-besaran sebanyak tiga kali menghadapi Daulah Shafawi yang berpaham Syiah. Pertama pada tahun 941 H/1534 M ketika orang-orang Shafawi masuk ke Kota Erzurum di bagian timur Turki sekarang. Kedua, pada tahun 955 H/1548 M terjadi kontak senjata atas wilayah Danau Van. Ketiga, tahun 961 H/ 1554 M.

Di masa ini juga muncul seorang pemimpin angkatan laut Utsmani yang terkenal, Khairuddin Barbarosa. Barbarosa adalah seorang panglima angkata laut terbaik dalam sejarah Islam. Jasanya sangat besar dalam menjaga Laut Mediterania, Pantai Yunani, Venice (kota di Italia), dan Spanyol.


Sekian dari blogger saya, semoga bermanfaat bagi anda semua 

Kamis, 18 Februari 2016

ZULKARNAIN DAN DINDING (TEMBOK) YANG DIBINA



Al-Quran menceritakan kepada Nabi Muhammad S.A.W mengenai Zulkarnain dan bagaimana Zulkarnain menggunakan kekuasaan yang dikurniakan oleh Allah S.W.T yang menguasai dari barat ke timur dan menempa kejayaan bagi tiap satu yang dikerjakannya dengan zat Allah. Ini telah pun dibahaskan dalam Siapakah Zulkarnain dan mengapa ayat ini diturunkan kepada junjungan baginda Rasulullah S.A.W.

Picture

Bermula dengan ayat ke 82 hingga 98 dari Surah Al-Kahfi, Nabi Muhammad S.A.W diceritakan berkenaan pengembaraan Zulkarnain yang mana membongkar satu kisah yang mengaitkan kekuasaan Allah yang mencipta kejadian makhlukNya, mengatur urusan kehidupan serta memberi petunjuk kepada manusia tanda-tanda hampirnya kiamat yang mana segalanya atas ketentuanNya yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Justeru itu, antara manusia mahu mengambil peringatan atau tidak, ketetapan Allah terus berlangsung sama ada dalam kita sedar ataupun sebaliknya leka mengikut  norma kehidupan semasa.


PicturePengembaraan ke arah Matahari Terbenam

Zulkarnain memulakan pengembaraannya ke arah matahari terbenam (barat). Di sana beliau sampai ke suatu tempat di mana airnya berwarna hitam (dipercayai Black Sea atau Laut Hitam). Beliau memahami, itu adalah penghujung jalan yang mampu beliau pergi.Di situ beliau terjumpa satu kaum manusia, yang kufur. Lalu beliau diberi pilihan oleh Allah iaitu sama ada mereka dibunuh melalui azab siksaan setelah diseru kepada mengesakan Allah ataupun diberi pilihan boleh membuat kebaikan kepada mereka dengan cara menyampaikan dakwah kepada mereka agar beriman kepada Allah. 

 Lalu beliau memberitahu kepada kaum berkenaan. sekiranya melakukan kezaliman dan penindasan akan dihukum kerana orang-orang yang zalim, apabila kembali kepada Tuhannya, akan diazab dengan azab yang pedih. Sebaliknya orang yang berbuat baik, akan diperlakukan dengan sebaik-baiknya. Bahkan mereka akan diberi ganjaran. Sepertimana Firman Allah S.W.T :

Picture

 
Pengembaraan ke arah Matahari Terbit

Kemudian, Zulqarnain meneruskan pengembaraannya ke arah yang bertentangan. Iaitu ke arah matahari terbit (timur). Di sana juga beliau bertemu dengan satu kaum yang ganjil dan pelik tinggal di situ. Mengikut tafsir al-Maraghi mereka tidak berpakaian dan tidak mempunyai rumah kediaman. Mereka hanya tinggal di dalam lubang-lubang tanah. Mereka hanya akan keluar pada waktu malam untuk mencari makanan mengikut cara mereka tidak mengikut kebiasaan bangsa yang lain. Ia dalam erti kata lain hidup secara primitif atas kefahaman tiada perlindungan itu disamakan dengan tidak berpakaian dan kediaman sepertimana Firman Allah S.W.T :


 Sekian dari blog saya dlu

SIAPAKAH ZULKARNAIN


PictureSiapakah tokoh yang bernama Zulkarnain? (Bahasa Arab ذو القرنين dhū al-Qarnayn), Ibnu kathir menafsirkan: Zulkarnain mempunyai bentuk kepala yang sedikit menonjol seumpama 2 tanduk (dalam bahasa arab “Qarn” bermaksud tanduk dan “Qarnayn” – dua tanduk). Walaubagaimanapun pendapat yang lebih baik merujuk kepada Zulkarnain yang mempunyai mahkota perang dengan dua tanduk.

Selain itu, gelaran dhū al-Qarnayn merujuk seorang penakluk agung yang telah sampai ke negara matahari jatuh (Norway) dan matahari terbit (Jepun) menunjukkan penguasaan beliau dari barat ke timur. Nama tersebut juga merujuk kepada dua zaman, yang mana Zulkarnain hidup pada masa lampau dan pada masa hadapan yang berhubungkait dengan sejarah beliau membina tembok yang menghalang Yakjuj & Makjuj manakala akan hidup pada masa hadapan memerangi Yakjuj & Makjuj. (Hanya Allah yang Maha Mengetahui).

Persoalan tentang Zulkarnain tercatat dalam sirah nabawiyah (sejarah Nabi) dan tertulis dalam sirah Ibnu Ishaq yang menceritakan bahawa musyrikin Makkah meminta bantuan Yahudi Khaibar untuk mencari kelemahan Muhammad S.A.W. Ketika Nadr mengatakan hal tersebut kepada mereka, mereka mengirim dia dan Uqbah bin Abu Muit kepada rabai Yahudi di Madinah. Untuk membuktikan kenabian, rabai tersebut akan mengajukan tiga soalan yang sekiranya dijawab dengan betul, maka itu membuktikan akan baginda seorang nabi dan begitu juga sebaliknya. Terbukti kesemua persoalan yang ditanyakan telah dijawab oleh Rasulullah dengan terang dan jelas yang mana baginda telah menerima wahyu dari Allah menerusi surah Al-Kahfi termasuk mengenai Zulkarnain. Sepertimana firman Allah S.W.T :



Picture

 Tafsiran Imam Al-Qurtubi dalam kitab tafsir Al-Qur’annya, Tafsir Al-Qurtubi, Zulkarnain menerima firman Allah S.W.T dan sehingga Allah berkenan memberinya kewibawaan serta melaksanakan amanah yang diberikan bagi mengajak kaumnya menyembah Allah.

Oleh itu, terdapat kekhilafan dikalangan ulama berhubung dengan diri beliau, adakah seorang nabi dan rasul, wali atau dia hanya seorang hamba yang soleh sahaja? Ada ulama mengatakan bahawa disamping dia seorang raja dia juga seorang rasul. Apapun beliau tergolong daripada seorang pejuang mujahiddin yang berani dan menguasai dunia seluruhnya, yakni, kerana kejayaannya menakluk dunia. Dan yang pasti al-Quran tidak menyebut umurnya, dan zamannya. Nabi saw pernah menyebut di dalam hadith baginda :

Maksudnya : Tidak aku ketahui adakah Tubba' itu Nabi ataupun tidak, dan tidak aku ketahui Zulqarnain itu Nabi ataupun tidak." (Hadith riwayat al-Hakim dan al-Baihaqi dan disahihkan oleh al-Albani di dalam Sahih al-Jami' bil. 5524)

Zulkarnain merupakan insan yang diberkati Allah yang dianugerahkan satu kuasa yang hebat yang setara dengan kuasa pemerintahan yang ulung di muka bumi. Yang mana kekuasaan yang dianugerahkan kepada beliau berlandaskan kepada kepercayaan, Iman dan Takwa sehinggakan kuasa itu mampu meletakkan hak Allah di serata muka bumi dengan matlamat yang beliau kehendaki.



Picture

 Yang jelas diyakini Zulkarnain seorang raja sepertimana di dalam sejarah dunia dicatatkan terdapat 4 pemerintahan agung yang telah memerintah dunia dan mempunyai kawasan penaklukan yang amat luas sebelum kelahiran Nabi Allah Muhammad S.A.W iaitu Raja Namrud, Raja (Nabi) Sulaiman, Raja Bukhtanasar dan Raja Zulkarnain.  Ada pendapat beberapa ulama dan pendapat yang tersohor menyatakan:

 1)  Al-Qurtubi pula menyebut dia hidup pada zaman Nabi Ibrahim atau awal sedikit dan membawa agama tawhid Nabi
      Ibrahim. Beliau dipercayai sebagai bangsa Arab berdasarkan riwayat dan puisi-puisi arab, menceritakan
      beliau berjalan kaki untuk menunaikan haji dan dan telah bertemu dengan Nabi Ibrahim serta melaksanakan tawaf
      bersama-sama pada 2000 BC. Walaubagaimanapun , terdapat setengah ulama menyatakan beliau seorang raja dari
      Parsi.

      Dalam Almuhadlarah al-Awali, kitab yang dikutip Ibnu Katsir, disebutkan, suatu ketika Nabi Ibrahim AS bertemu
      dengan   Zulkarnain di Mekah. Nabi Ibrahim memeluk dan menjabat tangan Zulkarnain  serta memberinya bendera.
      Lalu ia mengikuti syariat yang dibawa oleh Nabi itu dan menyeru kepada manusia agar berpegang teguh pada syariat
      tersebut.

      Hal ini dikuatkan kembali oleh sebuah hadis yang diriwayatkan oleh salah seorang sahabat Nabi SAW, Ubaid bin
     Umair dan anaknya, Abdullah, yang menyatakan, selama masa jayanya, Iskandar Zulkarnain pernah melaksanakan haji
      dengan berjalan kaki. ketika Nabi Ibrahim mendengar berita tersebut, beliau menemuinya seraya menyeru kepada
      agama Tauhid dan memberikan beberapa nasihat. Nabi Ibrahim juga membawakan Zulkarnain seekor kuda agar
      dinaikinya. Akan tetapi Zulkarnain menolak, seraya berkata, “Saya tidak akan menaiki suatu kendaraan di suatu tempat
      yang di dalamnya ada Ibrahim Al-Khalil, yang dikasihi Allah.”

2)  Wahab Bin Munabbih yang berpendapat Zulkarnain adalah raja Yaman bernama As-Sha’ab  Zulkarnain bin Al-Harith
      Zu Murathid yang mana beliau adalah dibawah susur galur keturunan Sam bin Nuh a.s. Dipercayai beliau hidup di
      zaman Nabi Musa dan membawa agama tawhid Nabi Ibrahim.

3) Abul Kalam Azad (Bekas Menteri Pendidikan India) telah menyelidik sejarah Parsi Kuno yang menemukan raja
     terbilang Kaurasyh Al-Ikhmini yang dikenali oleh orang Greek sebagai Cyrus dan Yahudi menggelar beliau sebagai
     Khauras. Dikatakan raja yang dipercayai Zulkarnain ini adalah raja yang berjaya menyatukan kedua kerajaan yang
     bermusuhan (Myra dan Himyar) dan menjadi satu empayar yang luas. Khauras juga dikatakan penyembah Zoster, iaitu
     menyembah agama yang satu. Khauras adalah raja yang bersifat adil, mempunyai hubungan rakyat yang baik dan
     menunjukkan sifat-sifat kemanusian yang mulia.

 
PictureBerlandaskan tiga pendapat ini, penulis berijtihad tiada percanggahan dalam aspek akidah Zulkarnain walaupun terdapat khilaf dari segi bangsa atau keturunan.  Walaubagaimanapun penulis lebih cenderung untuk menyatakan Zulkarnain adalah raja parsi memandangkan sumber rujukan yang banyak berbanding yang lain. Mengikut sejarah Parsi Kurno, Zulkarnain mempunyai empayar yang amat luas pernah wujud dimuka bumi hampir tiga perempat dan penjuru dunia telah dijejaki yang melebar dari Barat (Eropah dan Afrika) hingga ke Timur (China dan Jepun).

Kekuasaan Zulqarnain adalah berasaskan keimanan kepada Allah SWT. Penasihat Zulkarnain yang masyhur ketika itu ialah Nabi Khidir a.s yang bertawhid menjadi menteri kanan atau penasihat utama beliau yang bersama-sama mengikuti beliau dalam siri pengembaraan dan penaklukan negeri-negeri lain. Malah Khidir a.s. dikatakan telah menghilangkan diri selepas Zulkarnain mangkat.



Picture Ada juga yang berpendapat Zulkarnain pernah memimpin bala tentera ke Parsi, India, Bulchistan sehingga ke Asia Tenggara. Malahan pernah belayar mengelilingi Semenanjung Tanah Melayu dan singgah di kota Medang Kamulan timur yang terletak di Kelantan.Di Medang, Iskandar Zulkarnain merancang untuk menguasai seluruh Kepulauan Melayu atas tujuan berdakwah. Inilah yang terkandung dalam buku sejarah melayu, SULALATUS SALATIN yang menyatakan bahawa keturunan raja-raja Melayu juga dari keturunan Zulkarnain daripada bangsa ROM (seperti MERONG MAHAWANGSA). Walaubagaimanapun Ramai pengkaji sejarah meragui hubungan tersebut dan menyifatkannya sebagai percubaan penulis kitab itu untuk mengangkat martabat dan menunjukkan kehebatan serta kemuliaan raja-raja pada zaman dahulu. Sesetengah pula yang menyifatkannya sebagai mitos yang sengaja diadakan.



Zulkarnain Bukan Alexander
Picture Terdapat kekhilafan dikalangan ulama berhubung dengan siapakah Zulkarnain itu. Ada ulama yang berpendapat Zulkarnain itu ialah iskandar Zulkarnain yang dikenali juga sebagai ‘Alexender The Great’ ataupun Alexender Yang Agung. Tetapi semakin hari semakin ramai yang menolaknya termasuklah Imam Bukhari, Ibnu Taimiyyah, Sayyid Qutb dan Ibnu al-Qayyim. Terdapat lagi beberapa pendapat yang dapat membuktikan perbezaan kedua-dua individu ini :

Zulkarnain tiada Iskandar
Mengapa Zulkarnain dipanggil Iskandar Zulkarnain sedangkan dalam Al-Quran hanya dipanggil Zulkarnain?..Baiklah Iskandar atau Alexander sebenarnya membawa erti nama seorang raja, begitulah jolokan kepada Zulkarnain (Zulkarnain the Great atau Zulkarnain Penakluk Agung). Malah dengan kemasyhuran nama Iskandar Zulkarnain ini banyak raja-raja termasuk raja melayu kita menggunakan nama Iskandar. Tidak ketinggalan raja-raja di India yang menggunakan gelaran  “Rajendra” yang membawa maksud sama iaitu Iskandar atau Alexander. Penggelaran Zulkarnain ini cukup mempengaruhi manusia di zaman itu dan zaman seterusnya sehinggalah kepada raja dari Macedonia yang menggelarkan dirinya Alexander the Great. Ternyata penggunaan penggelaran ini menunjukkan Zulkarnain hidup lebih awal berbanding Alexander dan ia mengukuhkan lagi pendapat Zulkarnain dan Alexander the Great adalah individu yang berbeda.
 
PictureBerbeza Karektor
Terdapat percanggahan dalam sejarah hidup Alexander the Great dengan yang diceritakan dalam Al-Quran mengenai ciri-ciri Zulqarnain. Alexander merupakan raja yang lahir dalam empayar Macadonia yang dikisahkan telah berjaya menguasai Parsi yang merupakan empayar paling berkuasa ketika itu. Tidak sampai sedekad, ia telah berjaya membawa tenteranya berjalan sejauh 22,000 batu dan menguasai 3 benua. Namun kini secara perlahan-lahan kepercayaan itu mula sangsi. Ini kerana kajian pada karektor dan kisah sejarahnya membina empayar melalui peperangan dan kezaliman. Beliau juga dikenali raja yang kufur, suka membunuh, bergelumang dengan arak ,menganggap dirinya tuhan atau anak tuhan dan persundalan.
 Alexander Tiada dalam catatan Kitab Yahudi
Menurut Afareez Abd. Razak Al-Haffiz penulis buku “Benarkah Iskandar Bukan Zulqarnain”, nama Alexander the Great tidak dinyatakan dalam kitab-kitab yahudi sedangkan sebab turunnya ayat dalam surah al-kahfi adalah bagi menjawab soalan pendeta yahudi kepada Rasulullah dalam membuktikan kenabian baginda. Justeru itu, pastinya pendeta yahudi sudah mengetahui siapa penakluk agung tersebut sebab sudah pun dinyatakan dalam kitab-kitab mereka. Dalam hal ini, penulis ini lebih cenderung menamakan Zulqarnain ialah Cyrus II atau Cyrus the Great juga dikenali Kaurasyh Al-Ikhmini raja terbilang di Parsi. Rujuk semula pendapat Abul Kalam Azad (Bekas Menteri Pendidikan India) di atas.
PictureCylinder Cyrus
Berdasarkan kajian budaya dan sejarah Iran, terdapat pada batu silinder yang ditulis selepas kematiannya oleh Darius yang hebat sebab selepas 550 atau 540 sebelum masihi. Cylinder Cyrus adalah artifak dari zaman Empayar Parsi. Cylinder Cyrus disifatkan sebagai piagam pertama dan telah dijadikan asas piagam hak asasi manusia kini yang menyatakan hak beragama tanpa paksaaan. Dikatakan pernah dilawati Alexander untuk memberi tabik hormat kepada tokoh penguasa yang terhebat ini. Sekali lagi fakta ini menyokong dakwaan Zulkarnain hidup lebih awal berbanding Alexander.

 Ibnu Katsir, dalam kitabnya Al-Bidayah Wan Nihayah menjelaskan, meskipun terdapat nama dan plot cerita yang hampir sama, iaitu dari kekuasaannya membentang dari Barat sampai ke Timur, terdapat perbezaan jarak dan waktu sampai 2000 tahun antara mereka. “Hanya mereka yang tidak memahami sejarah yang bertegas mereka adalah orang yang sama” katanya.
PictureAgama yang di Anuti
Pandangan Wisnu Sasongko penulis buku “Alexander adalah Zulkarnain”, berpendapat penasihat Zulkarnain adalah Aristotle. Manakala Socrates guru kepada Aristotle adalah ahli falsafah agung,  yang mana beliau berijtihad Socrates sebenarnya seorang Islam yang cukup mulia iaitu Luqman al-Hakim, seorang tokoh yang diabadikan di dalam al-Quran di dalam surah Luqman.).

Walaubagaimanapun mengikut pendapat yang kuat yang ditarjihkan oleh Ibn Kathir dalam tafsirnya Tafsir al-Quran al-Azim dan disokong oleh as-Syahid Syed Qutub dalam tafsirnya fi zilalil Quran. Sebenarnya Zulkarnain yang disebut dalam al-Quran bukanlah ‘Alexender The Great’ kerana Alex itu adalah seorang raja yang kafir yang menyembah berhala atau dewa dewi ataupun Zeus. Malah ada fakta menyatakan Alexander memegang aspek semidivine zalim Asia, memakai pakaian Parsi di upacara dan menerima sujud di hadapannya. Alexander bertanggungjawab dalam penaklukannya menyebar pengaruh yunani. Tidak lama sebelum dia meninggal dunia, Alexander mengarahkan bandar-bandar Yunani untuk menyembahnya sebagai tuhan. Walaupun mungkin atas sebab-sebab politik. Tambahan lagi penasihat atau menteri kanannya adalah seorang ahli falsafah yang tidak percaya kepada Allah. Ini turut disokong dengan beberapa pandangan ulama-ulama Islam yang lain seperti:

Imam Ghazali dalam kitabnya al-Munqiz min adh-Dhalal dengan pendapat yang agak keras: “..maka sewajarnya mereka (Socrates, Plato dan Aristotle) itu DIANGGAP KAFIR dan juga mengkafirkan pengikut-pengikut mereka dari kalangan ahli falsafah Islam seperti Ibnu Sina dan al-Farabi.”

Kata Ibnu Qayyim, “Dia (Alexander) ialah anak Phillips, bukannya Zulqarnain yang dikisahkan oleh al-Quran. Bahkan perbezaan masa antara kedua-duanya adalah sangat lama. Agama mereka berdua juga memberikan satu jurang yang amat luas. Empayar Macedonia ini ialah musyrik dan penyembah berhala.”

Kata Ibnu Taimiyyah, “Sesungguhnya Zulqarnain berada dalam satu zaman yang terlalu jauh darinya (Aristotle) dan beliau membina benteng Yakjuj dan Makjuj.”
(Sumber- buku ‘Iskandar Zulkarnain’ oleh Muhammad Khair Ramadhan Yusuf)
Picture 

Perjalanan Alexander
Bukti-bukti menunjukkan perjalanan Alexander Macedonia tidak sampai pun ke negara China, paling jauh pun di pinggirnya saja, kemudian dia menemui maut dalam usia yang muda (33 Tahun) semasa peperangan akibat malaria. Alexander juga tidak membina apa-apa benteng sedangkan Zulqarnain membina benteng kukuh antara gunung (dipercayai binaan awal Tembok Besar China sebelum diteruskan menjadi beribu-ribu kilometer kerana memang ada bahagian tembok itu berteraskan logam bersalut tembaga di sebelah dalamnya untuk menyekat kaum Yakjud Makjud (bangsa-bangsa gusar di utara China).  



Dasar Takwa vs Ketamakan Kekayaan
Dalam pengembaraan Zulkarnain, beliau mendapati satu kaum di antara dua gunung yang  meminta bantuan dan sanggup membayar kepada beliau sekiranya membantu menghalang pencerobohan dan keganasan Yakjuj & Makjuj. Dan di dalam al-Quran, Allah berfirman "Zulkarnain menjawab: (kekuasaan dan kekayaan) yang Tuhanku jadikan daku menguasainya, lebih baik (dari bayaran kamu); oleh itu bantulah daku dengan tenaga (kamu beramai-ramai) aku akan bina antara kamu dengan mereka sebuah tembok penutup yang kukuh." Cara di mana Zulkarnain menjawab menunjukkan beliau tidak mempunyai kepentingan dalam keuntungan material di dunia ini. Misinya disahkan oleh Allah adalah untuk menjadi adil dan baik kepada tertindas, dan keras dengan orang-orang yang mendatangkan kesusahan kepada tidak berdaya.

Sebaliknya, apabila kita menganalisis Alexander dalam kapasiti yang sama, kita akan mendapat gambaran yang bertentangan dengan apa yang telah dipetik di atas untuk Zulkarnain: "Di Susa dan Persepolis beliau (Alexanders)  mendapatkan khazanah imperialis dalam emas dan syiling dan di peperangannya di Damsyik Parsi harta dan bekalan telah dirampas untuk memberikan kekayaan Alexander bagi kali pertama. Justeru itu, dari kedua-dua catatan sejarah, kita boleh gambar Zulkarnain adalah bukan Alexander.

Liciknya Barat
Jadi bagaimana kedua-dua individu ini disamakan? Sumber-sumber Barat pada awalnya tidak menyentuh tentang Alexander Macedonia dengan pembinaan sebarang benteng atau tembok. Namun mereka mula menyentuhnya apabila menyedari wujudnya cerita benteng Zulqarnain dalam Al-Quran.Beberapa pengkaji berpendapat bahawa ‘Barat’ yang terkenal dengan sikap gemar bermanipulasi tentang sejarah itu memainkan peranan penting untuk men’Zulqarnain’kan Alexander Macedonia. Mereka cukup sakit hati jika apa-apa kelebihan memihak kepada ‘Timur’ termasuklah dalam hal Zulqarnain. Barat mahu Alexander Macedonia diyakini semua orang sebagai Zulqarnain dalam Al-Quran. Al-Quran dengan bijaknya menyanggah hal itu apabila menyanjung keagamaan Zulqarnain yang jauh berbeza dengan ‘keliaran’ Alexander Macedonia.

Begitu juga dengan sejarah Rom dan Parsi yang saling beralih kuasa pemerintahan (pentadbiran dunia digilir-gilirkan antara Timur dengan Barat). Kedua-duanya ada raja yang bernama ataupun bergelar Iskandar. Rom pastinya iri hati dengan Iskandar Zulqarnain Parsi yang gah suatu masa dahulu. Atas sebab itu Rom (Barat) mahu membuktikan Iskandar merekalah yang paling ulung. Seboleh-bolehnya mereka mahu menutup kisah Iskandar Zulqarnain dari Parsi. Sekali lagi Kalamullah begitu hikmah menyanggah hal ini dengan menyebut tokoh ini sebagai ‘Zulqarnain’ sahaja tanpa ‘Iskandar/ Alexander’. ‘Zulqarnain’ hanya ada di Parsi dan bukan di Rom (ketika itu berpusat di Macedonia).


PictureSepertimana filem Alexander keluaran Barat, arahan Oliver Stones menggambarkan Alexander seorang Biseksual, gila kuasa, penyembah Dewa-dewi, dan lemah pendirian.Segala tindak-tanduknya dibawah kawalan ibunya, Olivia. Sepertimana di lakon layarkan Alexander adalah anak kepada Raja Philips II yang memerintah Macedonia. Setelah bapanya terbunuh Alexander menjadi raja.Seterusnya memulakan penaklukan dengan memusnahkan Empayar Parsi di bawah pemerintahan Darius I.Penaklukan diteruskan sehingga meliputi Asia Barat, Tengah, dan Asia Selatan. Alexander gagal memasuki India setelah angkatannya musnah di tangan Raja Chola. Kemuncaknya, Alexander di bunuh dengan racun oleh Pengikut-pengikutnya.Hayatnya terhenti pada usia 33 tahun.Ironiknya, Alexander diabadikan dalam Sejarah dunia sebagai Penakluk Agung bagi mengelirukan umat Islam pada masa kini dalam usaha men’Zulqarnain’kan Alexander.

Pendapat-pendapat lain
Dalam mencari siapakah Zulkarnain, penulis mendapatkan sumber dan pendapat yang masyhur tetapi tidak dinafikan terlalu banyak pendapat dan kajian yang dibuat sehinggakan kekeliruan berlaku. Walaubagaimanapun haruslah mempunyai bukti dan sanad yang meyakinkan dalam menerima atau menolak hujah atau pendapat-pendapat yang dikeluarkan. Antara pendapat lain, ringkasnya:

1)     Dikatakan Zulqarnain ialah anak Nabi Ibrahim daripada isteri(gundik)nya iaitu Qanturah/ Ketura. Anak inilah yang berguru dengan Aristotle. Ramain pendapat menyatakan pandangan ini tidaklah begitu kukuh. Sebagaimana yang kita sedia maklum, Iskandar/ Alexander yang berguru kepada Aristotle ialah anak Raja Phillips (Filaqus), bukan anak Nabi Ibrahim. Tentang keimanan ketiga-tiga tokoh falsafah itu, tidaklah didatangi dengan maklumat yang selengkapnya.

2)     Yusuf Ali, salah seorang ulama yang terlibat dalam menterjemah dan mentaksirkan al-Quran ke dalam bahasa Inggeris, menyimpulkan bahawa Iskandar Zulkarnain yang disebut dalam Quran dan sejarah Islam sama dengan Alexander The Great di barat. Perbezaan nama itu timbul kerana beliau menguasai empayar yang luas melangkaui dari benua Eropah sampai ke Timur Jauh. Beliau memerintah dua kerajaan dunia iaitu Timur dan Barat. Jadi ia hanya merupakan gelaran dan bahasa kepada individu yang sama.

3)     Mengikut Wisnu Sasongko, penulis buku “Alexander the Great” memang Zulqarnain. Menurut buku yang ditulis, ia mempunyai plot yang mirip dengan penulisan Afareez iaitu “tempat terbenam matahari” adalah wilayah penguasaan pertama Alexander (matahari terbenam di pantai Laut Tengah), ke arah timur (India) dan wilayah dua gunung (antara Laut Hitam dan Laut Kaspia). Begitu juga dengan tempat laluan yang dinyatakan di dalam al-Quran yang dilalui oleh Zulqarnain. Yang membezakan ialah beliau bertegas laluan tersebut dilalui oleh Alexander the Great tetapi tidak dilalui oleh Cyrus the Great. Ini dibuktikan dengan peta-peta laluan Alexander the Great daripada beberapa buah buku sejarah ada dimuatkan dalam bukunya itu. Bahkan mengatakan bahawa Alexander the Great seorang yang beriman dengan Allah s.w.t dengan hujahannya yang tersendiri memangkas pendapat Afareez Abd Razak Al-Hafiz. Walaubagaimanapun, penulis berpendapat hujahan Afareez hanyalah meletakkan individu yang sesuai iaitu Cyrus the Great bukanlah satu yang muktamad. Yang jelas sekiranya Alexander the Great dikatakan seorang yang beriman, berkemungkinan Zulqarnain adalah adalah orang yang sama. Cuma Alexander the Great yang dimaksudkan bukanlah lipatan sejarah Alexander dari Raja Macedonia.
Kesimpulan
Sesungguhnya perdebatan siapakah Iskandar Zulkarnain tidak ada penghujungnya. Tahun demi tahun, pengaksesan maklumat dan informasi yang disediakan memberi pengetahuan sosial, akademik dan saintifik kepada umat manusia dalam mencari kebenaran siapakah Zulkarnain.  Pelbagai  sumber dikemukakan demi membuktikan kesasihan kajian dan analisis yang dijalankan bagi menjelaskan tafsiran dan telahan mereka. Kita tidak boleh menyalahkan mereka untuk tafsiran yang mereka kemukakan sama ada mengelirukan atau sama sekali salah. Ini kerana, mereka terikat dengan elemen kerja,  pengaruh agama dan budaya mereka. walaubagaimanapun sebagai umat Islam sewajarnya merujuk dan menjelaskan teks al-Quran dengan cara yang terbaik menerusi tafsiran ulama-ulama yang diyakini selari dengan sumber-sumber yang ada pada mereka.

Sebagaimana pendapat Muhammad Khair Ramadhan Yusuf cukuplah bagi kita beriman bahawa Zulkarnain yang di sebut di dalam Al-Qur’an itu sebagai seorang raja agung yang beriman, yang berperibadi mulia. Hanya Allah yang Maha mengetahui segala-galanya.Siapapun Beliau, Allah telah memberi kuasa dan pemerintahan yang luas.Hanya Allah yang mengetahui segala-galanya.